Bandung – Jakarta

2.45 alarm yang menandakan aku mesti segera bergegas, meski dalam hati sungguh enggan. Ku tahu aku harus meninggalkanmu beberapa hari, demi menjalankan bakti sebagai abdi negara di ibukota.

Aku tahu aku tak bisa meminta lebih dari ini, Allah sungguh baik padaku. Diberikannya jarak 2-3 jam yang bisa kutempuh pulang pergi setiap akhir dan awal pekan.

Sudah 6 bulan aku begini, tak pernah sekalipun aku merasa nyaman meski meninggalkanmu sendiri. Lamanya pernikahan kita, susah dan senang, juga jauh dari rumah, kita jalani bersama

Aku hanya berharap kamu sehat, aku sebat, hingga di akhir pekan saat berjumpa, kita bisa melepas kerinduan dengan berpelukan bersama, dan menikmati hari-hari yang serasa milik berdua

Masih hari senin, namun aku sudah rindu saja.. Ya ampun…

Makan..makan sendiri~

Mukjizat

Kala itu kondisinya semakin menurun. Operasi yang beberapa jam lalu dilakukan sebagai ikhtiar terbaik kami sebagai manusia, tak mampu membendung racun di tubuhnya

Di antara kesakitan yang Ia rasa, kecemasan kami dan para tenaga kesehatan lirih dalam hati sungguh saya berharap adanya mukjizat

Karena nalar kami sungguh merasa, Ya Allah dia masih sangat muda, bahkan untuk merasakan cinta kepada lawan jenis pun baru ia rasakan.

Tapi sisi logika saya berkata, tak akan ada mukjizat. Tak ada lagi setelah Rasulullah SAW wafat. Yang ada hanya kepasrahan diri pada takdir Allah.

Dan pada akhirnya kami sebagai insan biasa, hanya harus menerima bahwa takdir kematian adalah kehendak Allah. Kami hanya harus melanjutkan hidup kami sebaik-baiknya dan menerima penuh keikhlasan, bahwa adik bungsu kami telah tiada di dunia.

Kepada Bima yang telah berpulang kepada Allah SWT… Semoga kita dapat berjumpa lagi, pada suatu ketika yang saat itu keabadian adalah sebuah keniscayaan.

Jakarta – Bandung

Saya beruntung. Setengah tahun lalu untuk berjumpa istri saya mesti menempuh perjalanan 1.378 KM dari Makasssar menuju Bandung dengan moda pesawat hanya sampai Jakarta.

Saya beruntung. Delapan tahun lalu untuk berjumpa keluarga dan calon istri saya mesti menempuh jarak 1.536 KM dari Baubau menuju Bandung, tentu saja dengan dua kali transit di Makassar dan Jakarta.

Saya beruntung. Hingga kini masih banuak kawan seangkatan dari pulau Jawa yang belum kembali ke tanah Jawa. Satu dan lain hal yang mengakibatkan mereka masih berjuang.

Maka, semacet apapun perjalanan Jakarta-Bandung PP yang saya jalani tiap pekan, sungguh saya merasa sangat beruntung. Sudah sepatutnya saya bersyukur.

Menju Bandung

Menjadi Prima

Menjadi bodoh dan tak paham itu buat saya adalah yang paling tidak menyenangkan. Nama Prima ini mungkin ya yang membuat saya selalu ingin jadi yang terbaik, terdepan paling tahu, dan tahu segalanya.

Beurat ku ngaran.. begitu biasa orang sunda mengata-ngatai orang yang nama diberikan orang tuanya, namun si anak merasa terbebani, stress, dan semacamnya.

Gagal itu memalukan, bodoh itu aib, dan gak tahu itu cerminan tak berguna.

Padahal sejatinya sebagaimana kata motivator, kegagalan itu adalah pembelajaran terbaik, bukti bahwa saya mencoba melakukan sesuatu. Bodoh itu menentramkan hati, pikiran perlu ketenangan agar berfungsi dengan baik. Gak tahu itu jauh dari dosa, lebih baik gak tahu daripada sok tahu.

Menjadi Prima, namanya keberatan, orangnya juga berat, hidupnya? Saat ini alhamdulillah sudah tidak terlalu terasa berat. Jakarta-Bandung itu dekat. Sering ketemu istri dan orang tua itu menyenangkan. Alhamdulillah.

Prim-a: menyegarkan

Penyesalan di awal 2022

Baru saja pagi ini, disadarkan seorang kawan bahwa hidupnya banyak terbuang oleh media sosial, instagram khususnya.

Lalu coba mengingat dan berkaca, hey ternyata banyak juga waktuku yang terbuang oleh scrolling media sosial tak jelas juntrungannya.

Kawanku juga membumbui getirnya sesalku dengan mengatai, “sudah lama ya kamu tidak mengisi blogmu?”. Akupun hanya tersenyum pahit, sambil menjawab dengan emot nyengir di chat.

Oke, hari ini aku akan mencoba menulis blog lagi. Apapun isinya, biar hanya sekadar cerita tanpa makna, tak mengapa. Perlahan aku bisa lebih baik, semakin baik, dan akan ketagihan menulis seperti dahulu kala.

Mungkin dalam satu atau dua pekan lagi, blog ini akan kembali sepi, namun setidaknya aku akan bisa membaca tulisan ini, dan semoga membuatku kembali tersadar. Kembali sadar dan tak menyesal lagi di tahun-tahun berikutnya. Ayo menulis, Prima!

Terkekang media sosial

Kisah Jarak

Tags

Tanggal 8 Desember 2020 lalu, tepat 79 bulan saya menikahi perempuan yang sangat saya idam-idamkan itu. Perempuan yang sederhana, pendiam (pada awal perkenalan), dan humoris. Sebelum menikah pasang surut hubungan yang dekat namun tidak mau disebut pacaran itu berlangsung kurang lebih 5 tahun lamanya.

Awal menikah karena masih ada perjanjian kontrak kerja istri dengan Beeri, saya dan istri mesti menjalani Long Distance Marriage (LDM). LDM season pertama kami Bandung-Baubau. Berat namun tidak begitu terasa berat, karena toh kami hanya bersama selama 3 pekan sebelum berpisah seperti yang sudah-sudah.

Enam bulan kemudian istri selesain kontrak kerja dan memutuskan untuk tidak memperpanjang romusha di Beeri. Dia memilih ikut saya merantau ke kepulauan Buton. Kehidupan di remote area yang jomplang banget dengan Bandung jelas membuat istri shock. Susah sinyal, jauh dari mana-mana, dan kalau pulang mahal menjadi ujian kami di Baubau.

Beruntungnya, tak perlu berlama-lama kami merantau. Sebuah kesempatan lanjut pendidikan ke Jakarta berhasil saya peroleh (dengan penuh tanda tanya pada diri: kok bisa keterima?). Kami pun harus LDM Season 2 karena jadi mahasiswa penghasilan sebelumnya terjun bebas, plus harus ngekos di south jekardah yang mahalnya gilak.

LDM Season 2 memaksa saya akhirnya bikin (atau mengaktifkan lagi ya?) Blog ini. Galau jauh dari istri dan tabungan yang minus terus cocoklah buat bikin galau. Galau yang ternyata berimbas parah: DO!. Ya, saya DO dari kampus itu karena gak berhasil mengikuti standar salah satu matkul. DO yang artinya saya bakal penempatan ulang lagi dan gagal sudah rencana indah karir 😭.

Setelah terluntang-lantung selama 2 bulan di khayangan (baca: Kantor Pusat) akhirnya saya kembali dapat SK: Makassar. Back to Celebes, but thanks bukan remote area lagi. Sedih pasti, tetap berharap kebaikan dalam hidup pasti selalu ada dong. Di Makassar saya ditugaskan di humas, impian yang tertunda, beneran. Dulu waktu di Baubau pengen banget kerja di humas kanwil/kanpus apadaya belum kesampaian.

Alhamdulillahnya penghasilan normal dan tugas jauh dari Bandung artinya istri ngekor lagi, yeaaayyy!!!. Mulailah perjuangan kami di Kota Daeng per 1 Mei 2020. Dari humas saya promosi ke unit kpp pratama, lagi-lagi masih soal penyuluhan dan edukasi, saya enjoy banget.

Total 1.5 tahun di humas dan 3 tahun 8 bulan di kpp pratama saya jalani. Saya benar-benar berharap bisa pindah ke Bandung, apalagi ada modal jadi AR terbaik sekanwil di 2019.

Lalu Oktober 2020 tibalah masa duka itu, kakak ipar yang sudah setahun lebih sakit akhirnya berpulang ke Rahmatullah. Saya sadar diri, mertua pasti terpukul 1 dari 3 anaknya wafat dan mereka masih harus jalanin usaha warung makan di Bandung, maka saya memutuskan untuk memulai LDM Season 3.

Sudah 1,5 bulan menjalani LDM Season 3 dan ini adalah LDM paling gak menyenangkan. 4.5 tahun bersama untuk lalu terpisah lagi ini duh nyesek cuy!. Cuma bisa nguat-nguatin diri dan tetap berharap season 3 ini gak sepanjang season di sinetron cinta fitri, udah mah 7 season, masing-masing season panjang pulak! Bah!

Perjalanan cinta ini masih panjang, saya yakin akan ada LDM season selanjutnya yang mungkin bisa jadi lebih penuh drama. Sekarang cuma bisa ngarep, berdoa, dan berjuang lagi biar bisa balik.

Saya udah di level pasrah, bener-bener nyerahin diri sama Allah. Kalau emang jodohnya sama instansi ini yok dah lanjut, kalau ternyata jalan rezekinya di tempat lain saya selalu terbuka buat semua peluang. Tapi pliss peluangnya kalau bisa nutupin semua cicilan yak! Hahaha

Berkait

Seerat apa hati kita terkait
Meski jarak membuat hati seringkali sakit
Menahan rindu dalam keheningan di kamar yang sempit

Untuk pulang perlu semakin irit
Karena ongkos melaju memaksa habis melalui debit
Demi waktu bertemu yang semakin sempit

Daring menjadi jalan hati kita mengait
Meski semua kata sayang tak sebanding dengan tangan yang saling mengapit
Kita berjauhan dan kebersamaan itu semakin sedikit

Tuhan, tetapkanlah hati kami selalu berkait…

Ketik bersama…

Menangis bersama

Semalam istri kembali haid, sedikit lebih cepat dari penanggalan haid di aplikasi ponsel pintarnya. Ada rasa sedih menggelayut di atas kepala kami, seolah awan mendung diikuti petir bergemuruh.

Bukan hal yang istimewa memang, pengharapan setiap bulannya selama 71 bulan kebelakang melatih kami lebih kuat menghadapi kenyataan bahwa setiap bulan Tuhan belum berkehendak mengkarunia kami anak.

Tapi bulan ini istimewa, setelah lebih dari sebulan saya WFH yang diselingi WFO, tentu saja kami berharap seperti jokes bapak-bapak yang lagi naik daun itu: Corona Negatif, Istri Positif.

Hal ini menyadarkan kami kembali, manusia hanya dapat berusaha, Tuhan lah yang menentukan.

Siklus yang membuat sedih, kali ini benar-benar sedih dari biasa, sampai saya bisa melihat matanya berkaca-kaca. Ia sungguh berharap kali ini, terlebih sepekan ini seharusnya ia merasa PMS, namun tidak, makin pede lah ia dan saya bahwa akan positif. Tapi ternyata tidak.

Ketika saya berusaha menguatkannya seperti yang biasa saya lakukan, ia menolak. Ia ingin dibiarkan saja dengan kesedihannya. Saya terkejut namun berusaha memahami.

Kita manusia, selalu berupaya kuat dan tegar ketika ada ujian dari Tuhan. Tapi mungkin kita lupa, sesekali perlu kita membiarkan dada ini sesak, membiarkan kesedihan ini menyerbak di dada, tak lama.. Untuk kembali kuat nantinya.

Tetap semangat, Istriku. Aku mencintaimu tak peduli apapun yang terjadi. Aku selalu ada di sampingmu, sebagaimana kamu selalu menemaniku.

Makassar, 2 Mei 2020

Menangis dan bahagia bersama…

Saya (tidak) manis

Seorang buruh mesti dikasih jeda, biar pekerjaan yang mumet di otot dan otak gak bikin pecah kepala, biar bisa bernapas untuk bisa digenjot tenaganya, produktif lagi, cari duit buat makan lagi, terus biar bisa liburan lagi.

Tiga hari terakhir di cuti tahunan yang saya ambil pasca 9 bulan yang melelahkan di Amnesti Pajak saya habiskan di Provinsi Daerah Istimewa Jogjakarta #JogjaIstimewa. Mulai dari Kota Jogaj, Kabupaten Bantul, Kabupaten Gunungkidul, hingga Kabupaten Klaten digarap semua oleh saya dan keluarga.

Mengambil paket tour yang murah meriah dengan sedikit modifikasi biar ena-ena liburannya, keluar lagi sedikit uang tak mengapa, uang bisa dicari, kebahagiaan bisa toh dibeli dengan uang?Ya buat kami mah bisa, ndak percaya?coba kasih kami uang, kami pasti bahagia.

Jogja menyenangkan, gunungnya, pantainya, orang-orangnya, semua menyenangkan. Murah, kata yang selalu terbayang setiap kami mengeluarkan uang baik untuk makan ataupun keperluan lainnya, uang Rp1.000 saja masih laku, buat nyewa kamar ganti di Umbul Ponggok, Klaten.

Satu hal yang kurang cocok betul dengan lidah Jawa Barat saya, rasa makanan manis. Sejak dahulu kala Jogja terkenal dengan panganannya yang khas yakni Gudeg, bukan cuma gudeg ternyata, berbagai jenis makanan di Jogja cita rasanya didominasi rasa manis. Saya yang terbiasa makan panganan dengan rasa dominan asin mengalami apa yang saya sebut foodlag, kondisi dimana lidah saya tak mampu beradaptasi dengan makanan serba manis di sini yang ujung-ujungnya menurunkan nafsu makan saya, hiks.

Kondisi ini berlangsung selama tiga hari, semenjak kedatangan awal saya ke sini hingga hari ketiga yang merupakan hari terakhir saya liburan, cukup menyebalkan. Sampai terbayang bagaimana jika suatu saat saya bertugas di Provinsi DIY atau Jawa Tengah pada umumnya, saya akan jadi kurus sepertinya (atau terkena diabetes), ha..ha..ha.

Sering mendengar kata-kata orang dahulu, apa yang kita makan, menentukan bagaimana karakter kita. Orang Sunda yang doyan asin cenderung lebih supel, Orang Jatim yang doyan pedas cenderung lebih bledag-bledug, nah Orang Jogja dan Jateng pada umumnya ini doyan manis, jadi orang-orangnya saya perhatikan pada kalem, manis bener sikapnya.

Jika memang demikian adanya, kala makanan menentukan bagaimana kita bersikap, kali ini, iya kali ini saja, saya rela dianggap tidak manis.

gambar hanya pemanis, iya dia manis banget, dia istri saya, doyannya minum es teh tawar.