Kisah Jarak

Tags

Tanggal 8 Desember 2020 lalu, tepat 79 bulan saya menikahi perempuan yang sangat saya idam-idamkan itu. Perempuan yang sederhana, pendiam (pada awal perkenalan), dan humoris. Sebelum menikah pasang surut hubungan yang dekat namun tidak mau disebut pacaran itu berlangsung kurang lebih 5 tahun lamanya.

Awal menikah karena masih ada perjanjian kontrak kerja istri dengan Beeri, saya dan istri mesti menjalani Long Distance Marriage (LDM). LDM season pertama kami Bandung-Baubau. Berat namun tidak begitu terasa berat, karena toh kami hanya bersama selama 3 pekan sebelum berpisah seperti yang sudah-sudah.

Enam bulan kemudian istri selesain kontrak kerja dan memutuskan untuk tidak memperpanjang romusha di Beeri. Dia memilih ikut saya merantau ke kepulauan Buton. Kehidupan di remote area yang jomplang banget dengan Bandung jelas membuat istri shock. Susah sinyal, jauh dari mana-mana, dan kalau pulang mahal menjadi ujian kami di Baubau.

Beruntungnya, tak perlu berlama-lama kami merantau. Sebuah kesempatan lanjut pendidikan ke Jakarta berhasil saya peroleh (dengan penuh tanda tanya pada diri: kok bisa keterima?). Kami pun harus LDM Season 2 karena jadi mahasiswa penghasilan sebelumnya terjun bebas, plus harus ngekos di south jekardah yang mahalnya gilak.

LDM Season 2 memaksa saya akhirnya bikin (atau mengaktifkan lagi ya?) Blog ini. Galau jauh dari istri dan tabungan yang minus terus cocoklah buat bikin galau. Galau yang ternyata berimbas parah: DO!. Ya, saya DO dari kampus itu karena gak berhasil mengikuti standar salah satu matkul. DO yang artinya saya bakal penempatan ulang lagi dan gagal sudah rencana indah karir 😭.

Setelah terluntang-lantung selama 2 bulan di khayangan (baca: Kantor Pusat) akhirnya saya kembali dapat SK: Makassar. Back to Celebes, but thanks bukan remote area lagi. Sedih pasti, tetap berharap kebaikan dalam hidup pasti selalu ada dong. Di Makassar saya ditugaskan di humas, impian yang tertunda, beneran. Dulu waktu di Baubau pengen banget kerja di humas kanwil/kanpus apadaya belum kesampaian.

Alhamdulillahnya penghasilan normal dan tugas jauh dari Bandung artinya istri ngekor lagi, yeaaayyy!!!. Mulailah perjuangan kami di Kota Daeng per 1 Mei 2020. Dari humas saya promosi ke unit kpp pratama, lagi-lagi masih soal penyuluhan dan edukasi, saya enjoy banget.

Total 1.5 tahun di humas dan 3 tahun 8 bulan di kpp pratama saya jalani. Saya benar-benar berharap bisa pindah ke Bandung, apalagi ada modal jadi AR terbaik sekanwil di 2019.

Lalu Oktober 2020 tibalah masa duka itu, kakak ipar yang sudah setahun lebih sakit akhirnya berpulang ke Rahmatullah. Saya sadar diri, mertua pasti terpukul 1 dari 3 anaknya wafat dan mereka masih harus jalanin usaha warung makan di Bandung, maka saya memutuskan untuk memulai LDM Season 3.

Sudah 1,5 bulan menjalani LDM Season 3 dan ini adalah LDM paling gak menyenangkan. 4.5 tahun bersama untuk lalu terpisah lagi ini duh nyesek cuy!. Cuma bisa nguat-nguatin diri dan tetap berharap season 3 ini gak sepanjang season di sinetron cinta fitri, udah mah 7 season, masing-masing season panjang pulak! Bah!

Perjalanan cinta ini masih panjang, saya yakin akan ada LDM season selanjutnya yang mungkin bisa jadi lebih penuh drama. Sekarang cuma bisa ngarep, berdoa, dan berjuang lagi biar bisa balik.

Saya udah di level pasrah, bener-bener nyerahin diri sama Allah. Kalau emang jodohnya sama instansi ini yok dah lanjut, kalau ternyata jalan rezekinya di tempat lain saya selalu terbuka buat semua peluang. Tapi pliss peluangnya kalau bisa nutupin semua cicilan yak! Hahaha

Berkait

Seerat apa hati kita terkait
Meski jarak membuat hati seringkali sakit
Menahan rindu dalam keheningan di kamar yang sempit

Untuk pulang perlu semakin irit
Karena ongkos melaju memaksa habis melalui debit
Demi waktu bertemu yang semakin sempit

Daring menjadi jalan hati kita mengait
Meski semua kata sayang tak sebanding dengan tangan yang saling mengapit
Kita berjauhan dan kebersamaan itu semakin sedikit

Tuhan, tetapkanlah hati kami selalu berkait…

Ketik bersama…

Menangis bersama

Semalam istri kembali haid, sedikit lebih cepat dari penanggalan haid di aplikasi ponsel pintarnya. Ada rasa sedih menggelayut di atas kepala kami, seolah awan mendung diikuti petir bergemuruh.

Bukan hal yang istimewa memang, pengharapan setiap bulannya selama 71 bulan kebelakang melatih kami lebih kuat menghadapi kenyataan bahwa setiap bulan Tuhan belum berkehendak mengkarunia kami anak.

Tapi bulan ini istimewa, setelah lebih dari sebulan saya WFH yang diselingi WFO, tentu saja kami berharap seperti jokes bapak-bapak yang lagi naik daun itu: Corona Negatif, Istri Positif.

Hal ini menyadarkan kami kembali, manusia hanya dapat berusaha, Tuhan lah yang menentukan.

Siklus yang membuat sedih, kali ini benar-benar sedih dari biasa, sampai saya bisa melihat matanya berkaca-kaca. Ia sungguh berharap kali ini, terlebih sepekan ini seharusnya ia merasa PMS, namun tidak, makin pede lah ia dan saya bahwa akan positif. Tapi ternyata tidak.

Ketika saya berusaha menguatkannya seperti yang biasa saya lakukan, ia menolak. Ia ingin dibiarkan saja dengan kesedihannya. Saya terkejut namun berusaha memahami.

Kita manusia, selalu berupaya kuat dan tegar ketika ada ujian dari Tuhan. Tapi mungkin kita lupa, sesekali perlu kita membiarkan dada ini sesak, membiarkan kesedihan ini menyerbak di dada, tak lama.. Untuk kembali kuat nantinya.

Tetap semangat, Istriku. Aku mencintaimu tak peduli apapun yang terjadi. Aku selalu ada di sampingmu, sebagaimana kamu selalu menemaniku.

Makassar, 2 Mei 2020

Menangis dan bahagia bersama…

Saya (tidak) manis

Seorang buruh mesti dikasih jeda, biar pekerjaan yang mumet di otot dan otak gak bikin pecah kepala, biar bisa bernapas untuk bisa digenjot tenaganya, produktif lagi, cari duit buat makan lagi, terus biar bisa liburan lagi.

Tiga hari terakhir di cuti tahunan yang saya ambil pasca 9 bulan yang melelahkan di Amnesti Pajak saya habiskan di Provinsi Daerah Istimewa Jogjakarta #JogjaIstimewa. Mulai dari Kota Jogaj, Kabupaten Bantul, Kabupaten Gunungkidul, hingga Kabupaten Klaten digarap semua oleh saya dan keluarga.

Mengambil paket tour yang murah meriah dengan sedikit modifikasi biar ena-ena liburannya, keluar lagi sedikit uang tak mengapa, uang bisa dicari, kebahagiaan bisa toh dibeli dengan uang?Ya buat kami mah bisa, ndak percaya?coba kasih kami uang, kami pasti bahagia.

Jogja menyenangkan, gunungnya, pantainya, orang-orangnya, semua menyenangkan. Murah, kata yang selalu terbayang setiap kami mengeluarkan uang baik untuk makan ataupun keperluan lainnya, uang Rp1.000 saja masih laku, buat nyewa kamar ganti di Umbul Ponggok, Klaten.

Satu hal yang kurang cocok betul dengan lidah Jawa Barat saya, rasa makanan manis. Sejak dahulu kala Jogja terkenal dengan panganannya yang khas yakni Gudeg, bukan cuma gudeg ternyata, berbagai jenis makanan di Jogja cita rasanya didominasi rasa manis. Saya yang terbiasa makan panganan dengan rasa dominan asin mengalami apa yang saya sebut foodlag, kondisi dimana lidah saya tak mampu beradaptasi dengan makanan serba manis di sini yang ujung-ujungnya menurunkan nafsu makan saya, hiks.

Kondisi ini berlangsung selama tiga hari, semenjak kedatangan awal saya ke sini hingga hari ketiga yang merupakan hari terakhir saya liburan, cukup menyebalkan. Sampai terbayang bagaimana jika suatu saat saya bertugas di Provinsi DIY atau Jawa Tengah pada umumnya, saya akan jadi kurus sepertinya (atau terkena diabetes), ha..ha..ha.

Sering mendengar kata-kata orang dahulu, apa yang kita makan, menentukan bagaimana karakter kita. Orang Sunda yang doyan asin cenderung lebih supel, Orang Jatim yang doyan pedas cenderung lebih bledag-bledug, nah Orang Jogja dan Jateng pada umumnya ini doyan manis, jadi orang-orangnya saya perhatikan pada kalem, manis bener sikapnya.

Jika memang demikian adanya, kala makanan menentukan bagaimana kita bersikap, kali ini, iya kali ini saja, saya rela dianggap tidak manis.

gambar hanya pemanis, iya dia manis banget, dia istri saya, doyannya minum es teh tawar.

Berjumpa Pakar Bijak

Beberapa hari yang lalu, di sela kesibukan mempersiapkan acara Aksi Simpatik Pajak: Bayar Pajak Keren – Cinta Bangsa Bayar Pajak, iseng melihat timeline Facebook, di antara berbagai macam hal yang nampak, ada satu yang menarik perhatian saya, postingan dari salah seorang dosen favorit sepanjang masa: Bapak Arief Risman.

Widyaiswara di Balai Diklat Keuangan Cimahi ini sedang mendapat penugasan ke Makassar, mengisi sosialisasi di Balai Diklat Keuangan Makassar yang letaknya bersebalahan dengan kantor saya.

Selalu ada momen pencerahan setiap saya berjumpa beliau, momen yang jarang-jarang terjadi itu (karena jarak dan waktu) saya maksimalkan betul, setelah sedikit berbincang di dunia maya, akhirnya kami janjian bertemu hari jumat lalu.

Jumat paginya, karena rapat untuk acara Aksi Simpatik Pajak sudah dimulai, saya terlupa untuk menghubungi beliau ngajak ketemuan, terlebih melihat beragam postingan beliau yang jelas nampak beliau sedang keliling-keliling Makassar.

Sampai pada pukul 10.30-an, beliau menelepon saya yang pada saat itu sedang rapat, untuk berjani bertemu di KPP Madya Makassar (yang berada di lantai 1 gedung tempat saya bekerja).

Akhirnya kami berjumpa, berbincang dengan bahasa sunda sebagai identitas kami, berbicara tentang penugasan beliau ke Makassar, dan tentang kemungkinan perjumpaan di masa yang akan datang.

Pak Arief Risman tetap humble seperti biasa, tetap keren, tetap lucu, dan tampak selalu awet muda..hihihi..yang jelas satu hal dari beliau yang selalu saya ingat: selalu memotivasi.

Selalu menyenangkan bertemu orang sesuku, ditambah orang tersebut adalah orang yang keren dan asyik seperti beliau.

Tidak sampai setengah jam kami berbincang, karena beliau mesti segera berangkat menuju bandara, kembali ke Bandung.

Perjumpaan diakhiri dengan saling mendo’akan dalam kebaikan, dan pengharapan saya untuk dapat mampu semakin bijak laiknya beliau.
Terima kasih atas waktu dan perjumpaan yang menyenangkannya Pak Arief Risman, sampai jumpa lagi di lain kesempatan

Agar Kapal ini melaju

Dan jika benar adanya kapal yang teruji tak hanya berdiam diri di dermaga,

Maka kapalku telah jauh berlayar dari pelabuhan menyenangkan yang disebut rumah.

Melewati gelombang menerjang, meliuk di selat-selat dengan seksama, dan tergores karang-karang yang tajam di perairan yang dangkal

Semua semata, agar kapal ini tetap melaju, meski mesti jauh dari perairan hangat kala senja, meski mesti sendiri menerjang gelombang.

Agar kapal ini tetap melaju, maka akan kukembangkan layar ini, menantang angin, ke arah di mana, masa depan secerah matahari terbit.

Pisah

Ada keresahan fikir tentang esok lusa, ketika aku terbangun, tak ada lagi kau di sisiku.

Hanya bisingnya alarm mengingatkan, untuk kembali menjalani rutinitas tanpa henti, mengingatkan untuk memendam rindu, beberapa pekan lagi.

Dan kau disana, ribuan kilo jauhnya.

Membayangkan esok saja sudah membuat sesak, padahal mungkin menjalaninya tak akan sesakit yang dibayangkan.

Aku tak bisa berjauhan darimu.

Dan bila memang kita harus berpisah, sebentar atau selamanya saat ajal menjemput, izinkan aku tetap menyediakan, ruangan terbaik di hidupku, hanya untukmu

Senyumanmu

Kau tahu, setiap senyumanmu adalah oase kebahagianku,

Saat kau berbahagia, dunia ini tampak lebih berwarna untukku, dan Everything-nya Buble menjadi soundtrack yang mengalun dalam momen-momen itu

Saat kau tersenyum adalah saat dimana bahagiaku mencapai titik himalayanya.

Dan setiap hari yang kita lalui bersama, adalah setiap waktu yang aku sadari dengan jelas, aku ingin lebih banyak membuatmu tersenyum, lebih banyak membuatmu tertawa, dan lebih banyak membuatmu bahagia, karena ku rasa, itulah satu-satunya jalan, bagaimana hidupku dapat terasa lebih bermakna sebagai pendamping hidupmu.

Semoga aku mampu, untuk selalu membuatmu tersenyum, karena setiap senyumanmu, membuatku jatuh cinta kepadamu…

Lagi..lagi ..dan lagi..

And in this crazy life, and through these crazy times
It’s you, it’s you, You make me sing.
You’re every line, you’re every word, you’re everything.
You’re every song, and I sing along.
Cause you’re my everything.

Kenapa harus ada akhir

Ketika waktu begitu singkat, ia berputar dari awal ke akhir, maka setiap tiba akhir pekan, kenapa ia harus berakhir?

Untuk berputar kembali ke awal?

Memulai apa yang sudah pernah dijalani, sama nama beda rasa

Mungkin, otak kita sudah lelah dijejeli memori dan kenangan, hingga tiba kini aku berkata, cukup!

Akhir pekan tak usah berakhir, biarkan ia selalu di sini, tak perlu lelah memulai awal lagi..

Karena jika esok awal lagi, maka akan ada kata-kata semangat semu, tentang malas bekerja namun takut menjadi miskin.

Tentang kemacetan, musim penghujan yang semakin sulit ditebak, dan anak sekolah yang berlomba-lomba diantar ke gerbang sekolah.
Cukup!

Biarkan akhir pekan berakhir di sini, tak perlu ada esok, karena esok tak pasti lebih baik, dan kini sudah terlalu bahagia, berselimut denganmu, dan kembali menanti hujan reda. Sampai esok.