Menangis bersama

Semalam istri kembali haid, sedikit lebih cepat dari penanggalan haid di aplikasi ponsel pintarnya. Ada rasa sedih menggelayut di atas kepala kami, seolah awan mendung diikuti petir bergemuruh.

Bukan hal yang istimewa memang, pengharapan setiap bulannya selama 71 bulan kebelakang melatih kami lebih kuat menghadapi kenyataan bahwa setiap bulan Tuhan belum berkehendak mengkarunia kami anak.

Tapi bulan ini istimewa, setelah lebih dari sebulan saya WFH yang diselingi WFO, tentu saja kami berharap seperti jokes bapak-bapak yang lagi naik daun itu: Corona Negatif, Istri Positif.

Hal ini menyadarkan kami kembali, manusia hanya dapat berusaha, Tuhan lah yang menentukan.

Siklus yang membuat sedih, kali ini benar-benar sedih dari biasa, sampai saya bisa melihat matanya berkaca-kaca. Ia sungguh berharap kali ini, terlebih sepekan ini seharusnya ia merasa PMS, namun tidak, makin pede lah ia dan saya bahwa akan positif. Tapi ternyata tidak.

Ketika saya berusaha menguatkannya seperti yang biasa saya lakukan, ia menolak. Ia ingin dibiarkan saja dengan kesedihannya. Saya terkejut namun berusaha memahami.

Kita manusia, selalu berupaya kuat dan tegar ketika ada ujian dari Tuhan. Tapi mungkin kita lupa, sesekali perlu kita membiarkan dada ini sesak, membiarkan kesedihan ini menyerbak di dada, tak lama.. Untuk kembali kuat nantinya.

Tetap semangat, Istriku. Aku mencintaimu tak peduli apapun yang terjadi. Aku selalu ada di sampingmu, sebagaimana kamu selalu menemaniku.

Makassar, 2 Mei 2020

Menangis dan bahagia bersama…

Saya (tidak) manis

Seorang buruh mesti dikasih jeda, biar pekerjaan yang mumet di otot dan otak gak bikin pecah kepala, biar bisa bernapas untuk bisa digenjot tenaganya, produktif lagi, cari duit buat makan lagi, terus biar bisa liburan lagi.

Tiga hari terakhir di cuti tahunan yang saya ambil pasca 9 bulan yang melelahkan di Amnesti Pajak saya habiskan di Provinsi Daerah Istimewa Jogjakarta #JogjaIstimewa. Mulai dari Kota Jogaj, Kabupaten Bantul, Kabupaten Gunungkidul, hingga Kabupaten Klaten digarap semua oleh saya dan keluarga.

Mengambil paket tour yang murah meriah dengan sedikit modifikasi biar ena-ena liburannya, keluar lagi sedikit uang tak mengapa, uang bisa dicari, kebahagiaan bisa toh dibeli dengan uang?Ya buat kami mah bisa, ndak percaya?coba kasih kami uang, kami pasti bahagia.

Jogja menyenangkan, gunungnya, pantainya, orang-orangnya, semua menyenangkan. Murah, kata yang selalu terbayang setiap kami mengeluarkan uang baik untuk makan ataupun keperluan lainnya, uang Rp1.000 saja masih laku, buat nyewa kamar ganti di Umbul Ponggok, Klaten.

Satu hal yang kurang cocok betul dengan lidah Jawa Barat saya, rasa makanan manis. Sejak dahulu kala Jogja terkenal dengan panganannya yang khas yakni Gudeg, bukan cuma gudeg ternyata, berbagai jenis makanan di Jogja cita rasanya didominasi rasa manis. Saya yang terbiasa makan panganan dengan rasa dominan asin mengalami apa yang saya sebut foodlag, kondisi dimana lidah saya tak mampu beradaptasi dengan makanan serba manis di sini yang ujung-ujungnya menurunkan nafsu makan saya, hiks.

Kondisi ini berlangsung selama tiga hari, semenjak kedatangan awal saya ke sini hingga hari ketiga yang merupakan hari terakhir saya liburan, cukup menyebalkan. Sampai terbayang bagaimana jika suatu saat saya bertugas di Provinsi DIY atau Jawa Tengah pada umumnya, saya akan jadi kurus sepertinya (atau terkena diabetes), ha..ha..ha.

Sering mendengar kata-kata orang dahulu, apa yang kita makan, menentukan bagaimana karakter kita. Orang Sunda yang doyan asin cenderung lebih supel, Orang Jatim yang doyan pedas cenderung lebih bledag-bledug, nah Orang Jogja dan Jateng pada umumnya ini doyan manis, jadi orang-orangnya saya perhatikan pada kalem, manis bener sikapnya.

Jika memang demikian adanya, kala makanan menentukan bagaimana kita bersikap, kali ini, iya kali ini saja, saya rela dianggap tidak manis.

gambar hanya pemanis, iya dia manis banget, dia istri saya, doyannya minum es teh tawar.

Berjumpa Pakar Bijak

Beberapa hari yang lalu, di sela kesibukan mempersiapkan acara Aksi Simpatik Pajak: Bayar Pajak Keren – Cinta Bangsa Bayar Pajak, iseng melihat timeline Facebook, di antara berbagai macam hal yang nampak, ada satu yang menarik perhatian saya, postingan dari salah seorang dosen favorit sepanjang masa: Bapak Arief Risman.

Widyaiswara di Balai Diklat Keuangan Cimahi ini sedang mendapat penugasan ke Makassar, mengisi sosialisasi di Balai Diklat Keuangan Makassar yang letaknya bersebalahan dengan kantor saya.

Selalu ada momen pencerahan setiap saya berjumpa beliau, momen yang jarang-jarang terjadi itu (karena jarak dan waktu) saya maksimalkan betul, setelah sedikit berbincang di dunia maya, akhirnya kami janjian bertemu hari jumat lalu.

Jumat paginya, karena rapat untuk acara Aksi Simpatik Pajak sudah dimulai, saya terlupa untuk menghubungi beliau ngajak ketemuan, terlebih melihat beragam postingan beliau yang jelas nampak beliau sedang keliling-keliling Makassar.

Sampai pada pukul 10.30-an, beliau menelepon saya yang pada saat itu sedang rapat, untuk berjani bertemu di KPP Madya Makassar (yang berada di lantai 1 gedung tempat saya bekerja).

Akhirnya kami berjumpa, berbincang dengan bahasa sunda sebagai identitas kami, berbicara tentang penugasan beliau ke Makassar, dan tentang kemungkinan perjumpaan di masa yang akan datang.

Pak Arief Risman tetap humble seperti biasa, tetap keren, tetap lucu, dan tampak selalu awet muda..hihihi..yang jelas satu hal dari beliau yang selalu saya ingat: selalu memotivasi.

Selalu menyenangkan bertemu orang sesuku, ditambah orang tersebut adalah orang yang keren dan asyik seperti beliau.

Tidak sampai setengah jam kami berbincang, karena beliau mesti segera berangkat menuju bandara, kembali ke Bandung.

Perjumpaan diakhiri dengan saling mendo’akan dalam kebaikan, dan pengharapan saya untuk dapat mampu semakin bijak laiknya beliau.
Terima kasih atas waktu dan perjumpaan yang menyenangkannya Pak Arief Risman, sampai jumpa lagi di lain kesempatan

Agar Kapal ini melaju

Dan jika benar adanya kapal yang teruji tak hanya berdiam diri di dermaga,

Maka kapalku telah jauh berlayar dari pelabuhan menyenangkan yang disebut rumah.

Melewati gelombang menerjang, meliuk di selat-selat dengan seksama, dan tergores karang-karang yang tajam di perairan yang dangkal

Semua semata, agar kapal ini tetap melaju, meski mesti jauh dari perairan hangat kala senja, meski mesti sendiri menerjang gelombang.

Agar kapal ini tetap melaju, maka akan kukembangkan layar ini, menantang angin, ke arah di mana, masa depan secerah matahari terbit.

Pisah

Ada keresahan fikir tentang esok lusa, ketika aku terbangun, tak ada lagi kau di sisiku.

Hanya bisingnya alarm mengingatkan, untuk kembali menjalani rutinitas tanpa henti, mengingatkan untuk memendam rindu, beberapa pekan lagi.

Dan kau disana, ribuan kilo jauhnya.

Membayangkan esok saja sudah membuat sesak, padahal mungkin menjalaninya tak akan sesakit yang dibayangkan.

Aku tak bisa berjauhan darimu.

Dan bila memang kita harus berpisah, sebentar atau selamanya saat ajal menjemput, izinkan aku tetap menyediakan, ruangan terbaik di hidupku, hanya untukmu

Senyumanmu

Kau tahu, setiap senyumanmu adalah oase kebahagianku,

Saat kau berbahagia, dunia ini tampak lebih berwarna untukku, dan Everything-nya Buble menjadi soundtrack yang mengalun dalam momen-momen itu

Saat kau tersenyum adalah saat dimana bahagiaku mencapai titik himalayanya.

Dan setiap hari yang kita lalui bersama, adalah setiap waktu yang aku sadari dengan jelas, aku ingin lebih banyak membuatmu tersenyum, lebih banyak membuatmu tertawa, dan lebih banyak membuatmu bahagia, karena ku rasa, itulah satu-satunya jalan, bagaimana hidupku dapat terasa lebih bermakna sebagai pendamping hidupmu.

Semoga aku mampu, untuk selalu membuatmu tersenyum, karena setiap senyumanmu, membuatku jatuh cinta kepadamu…

Lagi..lagi ..dan lagi..

And in this crazy life, and through these crazy times
It’s you, it’s you, You make me sing.
You’re every line, you’re every word, you’re everything.
You’re every song, and I sing along.
Cause you’re my everything.

Kenapa harus ada akhir

Ketika waktu begitu singkat, ia berputar dari awal ke akhir, maka setiap tiba akhir pekan, kenapa ia harus berakhir?

Untuk berputar kembali ke awal?

Memulai apa yang sudah pernah dijalani, sama nama beda rasa

Mungkin, otak kita sudah lelah dijejeli memori dan kenangan, hingga tiba kini aku berkata, cukup!

Akhir pekan tak usah berakhir, biarkan ia selalu di sini, tak perlu lelah memulai awal lagi..

Karena jika esok awal lagi, maka akan ada kata-kata semangat semu, tentang malas bekerja namun takut menjadi miskin.

Tentang kemacetan, musim penghujan yang semakin sulit ditebak, dan anak sekolah yang berlomba-lomba diantar ke gerbang sekolah.
Cukup!

Biarkan akhir pekan berakhir di sini, tak perlu ada esok, karena esok tak pasti lebih baik, dan kini sudah terlalu bahagia, berselimut denganmu, dan kembali menanti hujan reda. Sampai esok.

Istri dan Menulis

Entah kenapa, Saya merasa, Istri Saya, Fini Fathanah binti Asep Supriyadi, adalah seseorang yang berbakat menulis, tulisan pendeknya dalam status, dalam caption foto membuat saya merasa, dia punya bakat.

Sekalipun dia mengaku tak pandai menulis, bikin skripsi pun terpaksa biar bisa lulus katanya 😂😂😂

Tapi, saya tak pernah berhenti berharap, saya terus memotivasinya untuk menulis, “tulislah apa yang kamu suka.” Begitu ucapan saya kepadanya.

Hingga akhirnya dengan sedikit paksaan saya buatkan ffini.wordpress.com agar dia mau menulis.

Dan sudah tiga tulisannya yang terposting hingga kini di blog itu.

Dan saya tak pernah berhenti berharap dan selalu yakin, suatu saat nanti, alih-alih menyelesaikan semua game tanpa akhirnya, ia bisa membuat sebuah blog yang dibaca dan dikagumi banyak orang, bahkan mungkin bisa menulis sebuah buku, tentang resep, tentang ceritanya hidup bersama saya yang selalu berpindah-pindah, tentang dia yang ngekor perjalanan dinas saya, semua tentang kehidupan, semua layak untuk dituliskan..

Agar suatu saat nanti, kami selalu ingat dan bahkan bisa bercerita, kepada anak, kepada cucu kami, bahwa betapa indah hidup kami saat ini.

Kemanakah engkau Saudara?

Saya pernah punya saudara,
Yang tidak bertalian darah,
Namun ia dekat,
Ia juga suka mengajak diri penuh dosa ini untuk selalu dekat kepada Alloh

Kata-katanya adalah mutiara
Nyesss bagi jiwa-jiwa yang haus nasehat

Senyumnya adalah oase
Berjumpa, menjabat tangan, dan saling mendo’akan

Tutur katanya lembut,
Ia menjadi panutan yang dekat bagi saya
Ia adalah guru, Ia adalah sahabat, Ia adalah kakak

Dia lah Kang Mas Mochammad Ramdhani..

Namun, kini dia jauh di timur Indonesia sana,
Kami hanya bertemu lewat persapaan dunia maya
Dan ia seperti jauh
Diwhatsapp tak menjawab, di-sms pun tidak menghiraukan

Padahal saya rindu nasehatnya, saya rindu keramahannya, saya rindu persahabatannya

Semoga ia selalu baik-baik saja disana
Semoga meski raga dan hati ini berjarak
Alloh dapat mempersatukan lagi ukhuwah kita..

image

Dirgahayu Gita yang Ke-25!

Dia adalah kawan
Dia mengajari bagaimana merangkai mimpi dari ketiadaan
Mengajarkan bahwa tulisan punya kekuatan
Dan mengajarkan bahwa kesendirian bisa membebaskan

Ya, saya iri,
Akan pergaulannya yang kesana kemari, kenal sana kenal sini, komunitas sana komunitas sini
Mengepul asap di antara rekan penuh tawa lepas di kantin
Mengobrolkan perekonomian yang lesu, paham komunis yang agung, hingga semakin montoknya cewek-cewek kampus

Gita, bagi saya, adalah kawan yang menyimbolkan kebebasan.
Juga gambaran bagi saya, tentang ingin seperti siapa tulisan saya dihasilkan, ingin seperti tulisan Gita Wirjawan Wiryawan.

Entah apa yang ada di pikirannya, seorang yang anti kekuasaan, hidupnya nampak serabutan, memilih berpolitik di kampus
Saya geleng-geleng tidak percaya, juga tertawa dalam hati, dan merasa salut dalam pikiran

Jikapun pada saat itu saya mencoblos dia sebagai presma, mungkin bukan karena saya yakin dia akan bisa menciptakan perubahan besar di kampus birokrasi ini, tapi lebih kepada keyakinan, dia mampu menciptakan percikan semangat pembaharuan.
Cukuplah diawali percikan, toh api yang besar pun bermula dari gesekan yang kecil.

Hari ini dia ulang tahun,
Saya tak ingin berbasa-basi di chat grup
terlalu mainstream hehe

Saya ingin menciptakan sebuah coretan di blog yang sangat sepi ini,
Dan menyampaikan kekaguman saya pada gaya rambut kevin aprilio sosok seorang gita,
Ibarat kata, dia seperti habibie, kecil perawakannya namun bisa membawa perubahan positif kepada orang di sekitarnya.
Semoga semakin berkah usianya, semakin dahsyat tulisan-tulisannya, juga lancar kuliahnya
Aamiin

image

#FansBeratGita